Karya Tulis Guru A.N Susilowati Handayani Bulan November 2022

 

LIGHTER

 

Benda kecil ini biasanya selalu dibawa oleh sebagian besar kaum adam  didalam saku baju mereka. Fungsinya apalagi kalo bukan memantik api agar rokok bisa menyala. Sebetul nya benda ini juga bagus jika dibawa oleh kaum Wanita, bahkan menurut saya pria dan Wanita yang sudah baligh wajib membawa benda ini kemanapun. Mungkin ada yang bertanya “ kenapa saya berpikiran seperti itu”?. Apakah saya menganjurkan semua orang untuk merokok…Oh NO NO NO.

Saya pernah melihat tayangan pendek tentang petinju legendaris Muhammad Ali di sebuah channel Islami. Sang pembawa acara bertanya " mengapa Anda selalu membawa pemantik api padahal Anda bukanlah perokok?”  Muhammad Ali pun menceritakan alasan kenapa ia  selalu membawa pemantik api di sakunya, tenyata bukan untuk merokok tapi sebagai alat pencegah maksiat. Setiap ia ingin melakukan maksiat maka pemantik api pun dinyalakan tepat di bawah telapak tangannya. Baru beberapa detik  ia tak mampu menahan panas dari pemantik api tersebut, maka ia pun mengurungkan niatnya untuk bermaksiat. Muhammad Ali Kembali menjelaskan bahwa ia mengumpamakan  api  dari pemantik api tersebut adalah api neraka yang akan didapatnya  setelah bermaksiat. Masya Allah , sungguh ide yang sangat brilian dari seorang Muhammad Ali untuk mencegah bermaksiat.

Tutur kata para ulama Ketika menjelaskan tentang panasnya neraka terkadang hanya diimani saat kita mendengarkannya saja. Ketika kita kembali bergelut dengan berbagai masalah kehdupan kita menjadi lupa dan bermaksiat dengan mudahnya. Contoh kasus dibawah ini cocok untuk dijadikan referensi. Seorang bocah kecil yang penasaran melihat pisau lalu memainkannya dan mengamuk jika sang bunda melarangnya.  “ Jangan nak, pisau itu berbahaya, nanti kau bisa teriris dan berdarah, berikan pada ibu” , Karena masih bocah dan tidak mengetahui tentang pisau, anak tersebut tidak mengindahkan peringatan bundanya , hingga akhirnya jarinya tergores, anak itu menangis merasakan sakit dan perih. Setelah mengetahui rasa sakit nya, bocah itu tidak mau lagi bermain dengan pisau. Mengacu pada contoh diatas, seperti itulah kita, yang baru tersadar  setelah  fisik merasakan  sakit tak tertahankan.

“Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. bersabda, Api kalian ini, yang dinyalakan oleh anak keturunan Adam adalah satu dari 70 bagian panasnya neraka jahanam.” Mereka berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, api di dunia ini sungguh telah cukup (untuk menyiksa)” Beliau bersabda, “Maka sesungguhnya api jahannam dilebihkan 69 kali lipat panasnya, dan setiap bagiannya memiliki panas yang sama seperti api di dunia” (HR. Al-Bukhari & Muslim).

“Dari Abu Hurairah ra, Rasullah Saw bersabda., “Api neraka tekah dipanaskan selama seribu tahun sampai ia memerah, kemudian dipanaskan lagi selama seribu tahun hingga memutih, kemudian dipanaskan lagi seribu tahun hingga menghitam seperti malam yang gelap gulita.” (HR. Tirmizi & Ibnu Majah). Sungguh ngeri adanya.

Untuk memudahkan memahami fakta, maka bisa kita ambil perbandingan antara api dunia dengan api neraka. Sumber api dunia adalah Matahari. Menurut perkiraan pakar yang telah menelitinya, bahwa pada bagian inti matahari, akibat gravitasi menyebabkan tekanan yang intens dan membuat suhu melonjak hingga 15 juta derajat selsius. Sedang ditempat terbentuknya cahaya matahari yang sampai ke bumi suhunya 4.000 derajat celcius (dikutip dari Live Science, Selasa (23/2/2006). Jika air akan mendidih pada suhu 100 derajat celcius, Titik lebur Alumunium pada suhu 657 derajat celcius, Besi meleleh pada suhu 1.535 derajat celcius dan mendidih pada suhu 3000 derajat celcius. Jika kita ambil panas matahari terendah 4.000 derajat dikali 69 , maka panas api neraka adalah sekitar 276.000 derajat Celcius. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada tubuh kita,jika tersentuh api neraka tersebut. Lalu bagaimana dahsyatnya, jika ternyata suhu inti matahari sebesar 15 juta derajat celcius yang dikalikan 69 panas neraka dan ketemu angka 1.035 juta derajat ?.

 Kita tak mampu menahan panas dari sebuah pemantik api, maka cobalah bayangkan api  1.035 juta derajat Celsius melelehkan badan kita berulang-ulang kali, again and again forever non stop….

Naudzubillah min dzalik…

Bagaimana menurut anda, perlukah kita selalu membawa pemantik api?

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karya Tulis Guru Ida Juhanah, M.Pd bulan Maret 2023